PART ONE

By : Dewi Hastuty S.

Globalisasi ekonomi dan krisis Asia

Ketika mata uang Baht, Won dan Rupiah mengalami depresiasi di awal tahun 1997, maka momentum krisis di Asia pun dimulai. Panggung perekonomian dunia yang lazim diistilahkan sebagai globalisasi ekonomi menjadi marak untuk diperbincangkan oleh kaum yang berpikir namun miris diperankan bagi kaum yang terlantar oleh akibat dari krisis tersebut

Perubahan pola kebutuhan masyarakat dunia meningkatkan kadar hubungan ketergantungan terhadap ekonomi dan mempertajam persaingan antarnegara yang tidak hanya dalam perdagangan internasional, tetapi juga dalam investasi, keuangan dan produksi. Semakin kuat ketergantungan ekonomi maka semakin memperbesar resiko terjadinya goncangan atau krisis ekonomi keuangan bagi setiap negara , sebab integrasi sistem keuangan internasional membuat para pemilik modal besar setiap saat memindahkan modalnya dari satu negara ke negara lain.
The enemy is out there, salah satu dari tujuh identifikasi ala Pete M. Senge yang mengemukakan tentang bagaimana sekelompok orang atau organisasi yang tidak mampu atau tidak berdaya untuk belajar. Sebagai ilustrasi krisis finansial di Indonesia, selalu saja ujungnya adalah dikatakan karena akibat dari otoritas moneter Thailand atau tindak spekulan kapitalis George Soros sehingga ekonomi indonesia tidak dapat mendulang kesuksesan. Dan hampir tidak ada yang mengatakan bahwa terpuruknya ekonomi Indonesia karena kesalahan dalam proses mengurusnya.
baca selengkapnya

Dampak globalisasi ekonomi terhadap sosio ekonomi Indonesia

Sebutlah empat wilayah yang nyata terpengaruh secara umum dari globalisasi ekonomi yakni ekspor, impor, investasi dan tenaga kerja. Jumlah kemiskinan dan pengangguran di negara-negara berkembang semakin meningkat, tidak terkecuali di Indonesia. Sektor perindustrian dan pertanian yang mempunyai peranan yang besar dalam perekonomian di Indonesia pula mengalami degradasi. Dibandingkan Malaysia dan Thailand, untuk wilayah Asia Tenggara, Indonesia mengalami dua kali lipat penurunan inflasi sekitar 13,6 persen di tahun 1998. Aktivitas pendapatan dan produksi menurun, sektor non industri dan non pertanian menjadi marak untuk dilirik. Utamanya pada masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan yang umumnya tidak memiliki akses yang memadai di bidang pendidikan sehingga pada sektor pekerjaan yang kompetitif pun akhirnya melemah.

Secara teoritik dalam berpikir sistem, konteks ekonomi krisis ini tidak lepas dari tiga hal. Pertama, aktor manusia adalah bagian dari proses balikan (feedback) yang sama sekali tidak terpisahkan dalam konteks ini. Dengan demikian kita harus bersiap diri untuk mempengaruhi realitas kita sendiri. Kedua, tidak ada perseorangan atau individu yang bertanggung jawab penuh atas bekerjanya suatu sistem. Konsep balikan menyajikan pandangan bahwa setiap orang haruslah sama-sama memiliki tanggung jawab atas problematik yang muncul dalam suatu sistem. Tentu saja, hal ini tidak berati bahwa setiap orang yang terlibat, dapat memiliki daya ungkit (leverage) yang seimbang untuk mengubah sistem. Ketiga, kiranya dengan bepikir sistem kita melihat dengan lebih cermat dan teliti serta lebih komprehensif dalam memahami realitas fenomena di dalam masyarakat.

Proyeksi Dampak Sosio Ekonomi Indonesia Terhadap HIV AIDS

Dalam empirikal proses, dibuktikan bahwa titik sentrum dalam upaya mengatasi konteks miskin dalam semua program anti kemiskinan adalah akses kepada dan penggunaan sumber daya (modal manusia, modal finansial, dan modal material) proyek-proyek ini biasanya berfokus kepada : – relevansi dengan kaum miskin, – penciptaan struktur-struktur yang bertumpu pada diri sendiri (self-sustaining) dan memenuhi kebutuhan sendiri (self-sufficient), – penciptaan struktur yang dapat ditiru dan diteladani.

Kemiskinan memiliki variasi wujud, diantaranya rendahnya tingkat pendapatan dan produktivitas sumber daya, kelaparan dan kekurangan gizi, akses pendidikan dan layanan pokok berkurang, fasilitas tempat tinggal dan perumahan yang tidak tersedia, lingkungan yang tidak aman dan rendahnya tingkat partisipasi dalam pengambilan kebijakan dalam kehidupan sosial, budaya dan ekonomi.

Perempuan dan kemiskinan di negara berkembang baiknya juga menjadi fokus yang tak hanya diperbincangkan, meningkatnya kemiskinan perempuan juga dipandang sebagai akibat dari kesempatan kerja yang terbatas baik di sektor formal maupun informal. Hal ini tidak lepas dari aspek agama, budaya, sosial dan pembangunan yang berbeda-beda. Namun akibat rendahnya perolehan penghasilan yang independen telah menimbulkan pergulatan hidup yang cenderung permanen pada perempuan.

Tingginya jumlah ”ketidakberdayaan”ekonomi ini pada akhirnya membuat beberapa kalangan berupaya menutupinya dengan membuka sebuah lapangan pekerjaan baru yang ”dianggap” mampu untuk membantu ekonomi masyarakat khususnya yang berada dibawah garis kemiskinan. Pekerjaan baru ini pun banyak dipilih dan dilirik banyak oleh kaum perempuan karena dianggap dapat secara instant membantu kondisi rumah tangga, dengan bermodalkan keelokan tubuh dan rupa. Dan adalah para pria yang banyak berada di ranah publik, dengan kuatnya arus kompetisi dibidang bisnis dan perpolitikan, yang rentan mengalami stress dan ketegangan karena beban kerja yang tinggi pun, seolah semakin mengeksiskan pekerjaan ”baru” ini, karena turut menjadi konsumennya.

Buruknya, ternyata pekerjaan tersebut memiliki kontribusi terhadap meningkatnya penyakit degeneratif yang menjangkit dan semakin meluas penyebarannya. Konteks sosial dan perilaku yang mendukung eksistensi ”godaan” pekerjaan seolah semakin melegalkan keberadaannya. Virus yang menelan banyak korban khususnya kalangan muda usia dan kaum perempuan ini pun memiliki nilai kompetisi yang signifikan dijajaran penyakit pembunuh nomor wahid. Ketergantungan sosial dan ketergantungan ekonomi membatasi perempuan menegosiasi seks yang lebih aman. Di dalam situasi konflik, perempuan dipaksa membarter seks demi keselamatan dirinya. Namun disini, kita tidak akan mengulas jauh tentang konteks gender dan biasnya namun lebih pada dampak perilaku tersebut terhadap meningkatnya angka penderita HIV AIDS di Indonesia.

…………………………….