Dari buku Makro Sosiologi oleh : Stephen K. Sanderson….

Semua kebudayaan(peradaban) tergantung pada simbol.
Kemampuan menggunakan simbollah yang melahirkan kebudayaan dan penggunaan simbollah yang dapat mempertahankan kebudayaan.
Tanpa simbol, tidak akan ada kebudayaan,
dan manusia hanyalah binatang
dan bukan manusia.
(leslie white, 1949;43)

Sub Kultur dan Budaya Tandingan

Konsep kebudayaan tidak dapat diabaikan dalam pengkajian perilaku manusia dan masyarakat manusia. Namun tidak ada kesepakatan universal tentang makna konsep ini. Ciri kebudayaan mendasarkan diri kepada sejumlah simbol. Simbol sangat essensial bagi kebudayaan karena ia merupakan mekanisme yang diperlukan untuk menyimpang dan mentransmisikan sejumlah besar informasi yang membentuk kebudayaan. Di sisi lain, kebudayaan itu dipelajari dan tidak tergantung kepada pewarisan biologis dalam transmisinya. Kebudayaan juga adalah sistem yang dipikul bersama oleh para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif daripada secara individual. Kebudayaan secara definisi adalah representatif dari para anggota masyarakat yang dipandang lebih secara kolektif. Namun kebudayaan juga cenderung terintegrasi. Berbagai bagian atau komponen kebudayaan cenderung menyatu sedemikian rupa sehingga konsisten satu dengan lainnya, disamping konflik, friksi, dan kontradiksi yang juga ada.

Sub kultur adalah derivatif dari kebudayaan yang lebih besar dalam artian masih dalam frame kebudayaan secara keseluruhan yang lebih besar. Umumnya menerima pola budaya dominan namun tetap memiliki perbedaan khas dalam beberapa hal. Ada pemikiran dan tindakan yang berbeda yang masyarakat lakukan namun tetap sebagai sebuah keseluruhan.

Berbeda halnya dengan budaya tandingan yang merupakan budaya yang cenderung didasarkan atas perlawanan terhadap atau penolakan terhadap pola yang dominan, budaya ini bersifat revolusioner sehingga dianggap melakukan usaha untuk perubahan perubahan secara fundamental. Namun, kebanyakan budaya tandingan tidak diilhami oleh maksud-maksud seperti generasi itu. Pada umumnya merupakan pola terorganisir yang menarik diri dari arus utama kehidupan budaya.

Transmisi kebudayaan dari satu generasi kegenerasi lainnya di kenal dengan proses sosialisasi dan sosialisasi adalah bagian yang fundamental dari seluruh pengalaman manusia. Tak ayal dalam proses tersebut begitu banyak hal yang terjadi dalam memperebutkan wacana dominan. Maka seringkali terjadi konflik di bawah payung kekuasaan. Konflik yang terjadi biasanya tidak hanya dalam skala monodimensi namun pada tahap untuk mencapai perubahan sosial maka konflik pun merembet menjadi multidimensi.

Weber mengakui bahwa konflik dalam memperebutkan sumber daya ekonomi merupakan ciri dasar kehidupan sosial. Weber menekankan ada dua tipe : dia menganggap bahwa konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang sangat fundamental. Kehidupan sosial dalam kadar tertentu merupakan pertentangan untuk memperoleh kekuasaan dan dominasi oleh sebagian individu dan kelompok tertentu terhadap yang lain, dan dia tidak menganggap pertentangan dalam memperoleh kekuasaan ini hanya semata-mata didorong oleh keuntungan ekonomi. Sebaliknya dalam kadar tertentu sabagai tujuan pertentangan itu sendiri. Pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidaklah terbatas pada organisasi keagamaan dan pendidikan. Tipe konflik kedua yang sering kali ditekankan Weber adalah konflik dalam gagasan dan cita-cita. Orang seringkali tertantang untuk memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka, baik itu berupa doktrin keagamaan, filsafat sosial ataupun konsepsi tentang bentuk gaya hidup kultural yang terbaik. Lebih dari itu, gagasan dan cita-cita tersebut bukan hanya dipertentangkan tapi juga dijadikan senjata atau alat dalam pertentangan lainnya misalnya pertentangan politik. Jadi, orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan dan pada saat yang sama, berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa kekuasaan itu yang mereka tuju, tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Strategi evolusioner adalah dengan berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan rangkaian-rangkaian perubahan sosial yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Evolusionis umumnya berpendapat bahwa masyarakat yang telah mengalami perubahan-perubahan yang umumnya serupa dari zaman dulu hingga sekarang, dan berusaha keras mengidentifikasikan sifat-sifat perubahan ini dan menjelaskan kenapa perubahan ini terjadi.

Pada akhir goresan, kebanyakan manusia merespon perbedaan kebudayaan secara etnosentris atau menganggap cara hidupnya sendiri yang lebih unggul dari cara hidup yang lain. Para ilmuwan sosial secara umum menyetujui bahwa etnosentrisme adalah sifat manusia yang tidak menguntungkan, dan pasti menimbulkan hambatan untuk memperoleh pemahaman sosiologi yang bermakna.

Makassar, 2007
Dewi HS