Sejak sajak bergayut menemukan rima,
Aksara menjadi kaya oleh makna,
Raga menemui rasa, cipta, karsa
Karena jiwa, dan nafas kehidupan
Menjadi sempurna bersama
Cinta,

Ah …
Garam mungkin menghilangkan bau anyir kepedihan,
Tapi jelas membantu luka untuk semakin perih ..

Di negara ini,
Banyak bertabur garam halus,
Nyaris tak terlihat,
Seperti duri kaktus.

Malam panjang betul …
Jalan pendek betul …
Hidup singkat betul ….
Langit mendung betul ….
Ruang sempit betul …..
Harap pupus betul ….
Manifesto ekspektasi
Merekrut ranah kenyamanan
Dalam diri
Dalam hidup
Dalam sunyi …
Dalam kelangkaan …
Nurani.
Ikhlas,
…..
kah ?!!

Bila nanti aku mati dengan luka dan gelisah,
Realitas yang berubah, tapi realitasku ..tidak!
Bukannya menafikan perubahan fakta..
Pada runtut musim yang kita tuntut
Selalu tak pernah selesai menjelaskan kisah
Tapi , adakah yang benar-benar telah kita selesaikan ?

Bumi yang sama kita jejaki,
Air mata yang sama kita tumpahkan,
Utang-utang darah, haru mendayu warisan duka
Elegi sunyi untuk tanah air.

Mungkin benar tebakan sisifus tentang absurditas,
Senjata pembunuh yang dingin
Tapi jitu menikam jantung kepastian.
Anehnya …….
Orang-orang justru menikmatinya

Seperti kelangkaan
Pada ruang-ruang yang serba cukup
Seperti kemewahan
Pada ranah-ranah yang hampir pa-pa
Seperti kesunyian
Pada hiruk pikuk etos
Seperti hamparan lemak-lemak korupsi
Pada hukum yang marasmus
Seperti … nya.
Ada yang aneh…
Tapi
Orang-orang justru menikmatinya.

Peluh adalah harga yang menjadi ciri
Setiap kali menjejakkan cita,
Tiada yang lebih.
Ekspektasi berjejak disetiap horison hari-hari
Dimana totalitas etos menjadi ciri yang membumikan maksud.
Kita berada pada ruang sejarah yang kita ukir diatas keringat dan air mata,
Janganlah surut
Hanya karena setitik darah kita tumpah,
Untuk sebuah cita nurani,
Yang hanya dapat dihargai dengan kemurnian jiwa,

Ikhlas
lah !

(11/04/08—dw)
Dewi Mudijiwa