EPISODE RINDU; RINDU I
Pada perjalanan hambar
Dan proses pikir yang teledor
Cinta telah menjadi kepingan atom
Yang bermukim sia-sia
Lantaran kena tembak dan sebagian pudar
Di makan usia
Sauh mengukir sang waktu
Rindu menuliskan Kau!
Seluruh jemari mengepak
Merpati diam di ujung penantian
Luruh. Terbunuh.
Rinduku laksana Terumbu
Teguh, tumbuh, memecah ombak
Di atas purnama menjadi lentera
Pada pukat rasa yang berebut ruang
Percik-percik harmoni menuai denting
Irama cinta yang menenangkan
Surgamu menjadi dalam untuk di sentuh
Rinduku. Lajulah-laju.
Matahari menepi
Lentera merah diujung kabut
Bambu-bambu kuning mengerling
Pada anak-anak sungai
Cahaya pun berpendar di permukaan
Satu bayang tak dapat hilang …
Mungkin
Bayang-Mu.
taufik made on 02 Dec 2009 at 4:13 pm #
aku jadi membayangkan kampung mariso (kalau nggak salah namanya) yang dulunya nelayan sekarang berubah menjadi (ntah) karena GTC mall di tanjung bayang.
andai jalanan itu bukan timbunan, tapi jembatan dengan tiang2 yang jenjang, pasti banyak terumbu and pastinya kampung nelayang itu sedap dipandang mata.
dewimu dijiwa on 13 Dec 2009 at 5:40 am #
hmm… miris. sekarang pun telah terbentang jalan yang menghubungkan antara tanjung bayang dengan pulau lae-lae….
pukat nelayan tidak lagi menggenangi losari…
indah mungkin…
perih sesekali…